Kita Tidak Lupa dan Tidak Akan Pernah Lupa

Di tengah kesibukan kita menyambut hari raya, Masih ingat kita pada sosok Munir, kawan-kawan?

saya sangsi bila ada yang tidak mengenalnya.. Siapa sih tidak kenal beliau.. siapa pula yang tidak ingat beliau.. seorang aktivis penegakan HAM (Hak Asasi Manusia) yang semasa hidupnya begitu concern dengan penegakan HAM di indonesia. Karena perhatiannya itulah, berbagai ancaman sering kali menghinggapi dirinya dan keluarganya. Namun semua itu sama sekali tidak mengendurkan keberanian Munir untuk mengungkap apa yang dia anggap benar.. bahkan tokoh-tokoh penting yang memegang peran penting di pemerintahan pun tak lepas dari sorotannya. berbagai kasus dia tangani, seperti kasus Marsinah, kasus Trisakti dan masih banyak kasus-kasus lain yang berhubungan dengan pelanggaran HAM.

Tak ayal lagi banyak pihak yang kagum pada keberaniannya. Namun tidak sedikit yang geram dengan semua gerak-geriknya.. banyak yang takut sepak terjang Munir akan membawa mereka ke balik jeruji besi. Itulah pada 7 September 2004, tepat 6 Tahun yang lalu, dalam perjalanan menuju belanda, untuk melanjutkan kuliah S2-nya di negeri Kincir Angin, sebuah tragedi terjadi. Menurut kabar, sebetulnya ada 3 maskapai penerbangan yang memberikan tawaran kepada beliau untuk mengantar hingga ke Belanda. Garuda Indonesia, KLM dan Malaysia Airlines. Namun Munir lebih memilih penerbangan Garuda Indonesia yang dia anggap paling “aman”. namun malang tak dapat di raih, untung tak dapat di tolak. pada penerbangan itulah, Munir meregang nyawa karena arsenik.

Enam tahun sudah berlalu.. namun sama sekali tidak ada kabar kejelasan mengenai pelaku sebenarnya. Siapa Dalang pelaku pembunuhnya pun sampai detik ini masih bebas berkeliaran..

satu hal yang saya tidak mengerti.. sudah matikah hati nuraninya.. apakah dia memiliki keluarga? pernahkah dia berpikir bila apa yang menimpa munir bisa saja menimpa dirinya? memaksanya meninggalkan keluarga dan anak-anak yang masih kecil? pernahkah dia ingat akan kuasa Tuhan? pernahkah dia tahu tentang azab dan karma? apakah kemarahan orang-orang indonesia atas kematian munir, tidak menggetarkan jiwanya? ah.. entah.. mungkin otak dan hati nurani pelakunya sudah lama mati.. jauh sebelum mereka mengambil nyawa Pahlawan Penegak Hak Asasi Manusia.. saudara Munir Said Thalib.. (worship) Munir yang berarti cahaya.. semoga walau dia telah tiada, dia tetap bisa menjadi cahaya penerang bagi orang-orang yang tersesat dan berada didalam kegelapan agar mau dan berani bangkit menegakkan kebenaran.. amiin.. ­čÖé


*sumber foto

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *