Ibu Bumi Makin Tua..

Hari ini lagi browsing-browsing berita dan baca beberapa artikel soal Perubahan Iklim dan dampaknya dalam kehidupan kita.. agak serem buat saya.. Berasa banget kalau bumi makin tua.. makin sering sakit-sakitan.. 🙁

Saya jadi ingat obrolan saya sama beberapa teman blogger dengan pihak UNDP beberapa waktu yang lalu di acara Social Good Summit Indonesia. Waktu itu kita ngobrolin soal pemanasan Global dan perubahan iklim di bumi.

Saat kita ngebahas soal isu pemanasan global dan kesadaran masyarakat soal ini.. Kita sadar bahwa masyarakat sudah tahu soal isu ini. Tapi soal seberapa banyak orang yang sudah bertindak setelah tahu soal isu pemanasan global dan perubahan iklim ini,  kemudian jadi lain perkara..

Dari pengalaman yang sudah-sudah, soal pemanasan global, perubahan iklim dan sebagainya emang bakal ramai dibicarakan saat kampanye sedang berlangsung.. orang-orang jadi latah. semua ikut-ikut ngomongin pemanasan global dan perubahan iklim. Tapi.. setelah isu itu tak lagi hangat dibicarakan, ya mereka cuek-cuek lagi.. istilahnya.. anget-anget tahi ayam 😆

Well.. udah bagus sih, ada yang tergerak mau berubah.. tapi.. untuk menjadikan gaya hidup yang ramah lingkungan jadi bagian hidup sehari-hari kayaknya jadi PR bersama deh..

Untuk menjadikan sikap ramah lingkungan ini jadi bagian dari gaya hidup, sepertinya butuh sebuah perubahan paradigma (cara berpikir) dari kita semua.. mulai dari cara kita memperlakukan sampah, mengkonsumi barang-barang, sampai cara kita menciptakan lingkungan yang sejuk..

So far, Menurut saya, salah satu cara yang paling efektif dan bermanfaat adalah dengan membuat bumi jadi lebih hijau. diantaranya berkebun. sejak tahun lalu sudah ada gerakan yang namanya Indonesia berkebun, Jakarta berkebun dan (kota2 lain) berkebun.

Walaupun kegiatannya masih pasang surut, tapi ini adalah sebuah embrio dari gerakan menghijaukan bumi. Dari semangat menghijaukan bumi ini, kita bisa melakukan berbagai hal yang kita bisa misalnya berkebun.

Keterbatasan lahan yang dimiliki bukanlah alasan untuk tidak berkebun. Salah seorang kawan saya, mencoba menularkan semangat berkebun dengan membuka  kebun kotak yang bisa disewa oleh siapa saja hanya dengan uang Rp 10.000,- termasuk bibit dan biaya perawatan. Tapi.. bukan berarti kemudian si penyewa menyerahkan sepenuhnya soal perawatan kepada pengurus kebun, Di harapkan penyewa ini juga ikut datang, mengurus setidaknya seminggu sekali.. dari situ bisa belajar dan menumbuhkan semangat berkebun..

Kak Lita, sang pengelola kebun kotak sendiri senang sekali melibatkan anak-anak untuk ikut berkebun. Dari sini diharapkan sejak usia dini, mereka sudah menyukai tanaman dan tidak lagi jijik atau malas berurusan dengan tanah dan tanaman.

Dan yang paling bikin anak-anak semangat adalah, setelah mereka menanam dan panen, Mereka bisa menjual hasil panen mereka loh.. sejak tahu bahwa bercocok tanam bisa menghasilkan, anak-anak ini jadi rajin sekali ikut bercocok tanam di kebun kotak.

Selain Kak Lita, saya juga cukup salut dengan cita-cita seorang kawan, yang ingin menjadi petani tentunya bukan sembarang petani. Tapi petani yang mampu membantu mengatasi krisis pangan yang ada saat ini. Semoga Cita-citanya segera bisa terwujud. Aamiin.. 🙂

Semoga, obrolan dengan pihak UNDP saat Social Good Summit bulan lalu tidak hanya menjadi sebuah obrolan belaka, tapi kita sendiri coba memulai beraksi untuk bumi.. Mari sayangi Ibu Bumi yang sudah semakin tua.. *peluk ibu bumi*

Dibawah ini, saya share foto-foto waktu acara Social Good Summit ya.. 🙂