Dekat tapi jauh..

Dekat tapi jauh.. kalo jauh ya udah pasti jauh.. 😀

hehehe.. bingung apa maksudnya yak.. ya setidaknya kata-kata itu lah yang muncul di kepala saya saat ini.

Siang ini saya sms-an sama mpus (bukan kucing, tapi adik saya). kami ngobrol lewat sms. Berbincang tentang salah satu aktifitasnya yang baru. Saya mengetikkan kalimat sebagai bentuk dukungan atas apa yang di kerjakannya. Setelah selesai mengirimkan sms, saya terpaku menatap layar HP.

Kenapa kami berbincang via sms? Kami tinggal serumah. kenapa kami tidak berbincang di rumah? Ah.. saya lupa.. kami memang sudah lama tidak berbincang dari hati ke hati. sering kali obrolan dilakukan via sms dan telepon atau bahkan sambil lalu karena salah satu dari kami bergegas untuk berangkat beraktifitas.

Ini hari sabtu.. seharusnya hari sabtu siang begini, saya menghabiskan waktu dengannya dan mama di rumah.. membereskan rumah sama-sama, atau mencoba mencoba resep kue baru, Tertawa lepas sambil mencuci pakaian berdua mpus sambil main air.. ah.. sudah lama sekali saya tidak melakukan itu semua..

Jangankan berbincang dari hati ke hati.. untuk sekedar makan malam sama-sama pun sudah sangat jarang saya lakukan.. aktivitas yang super padat belakangan ini, membuat saya jarang menghabiskan waktu bersama keluarga. Kalaupun ada di rumah, saya lebih banyak menghabiskan waktu di ruang mengetik, untuk bekerja bersama little missy si netbook kesayangan. Secara fisik saya ada di dekat mereka.. tapi hati dan pikiran saya menyelam dalam berbagai macam tumpukan pekerjaan..

*sigh*

Saya pun berjanji dalam hati. Saya harus segera menyelesaikan pekerjaan hari ini dan kembali ke rumah untuk menghabiskan waktu bersama mereka. bersama orang-orang yang ku cinta.. bersama orang-orang yang mencintai dan mendukungku sepanjang waktu..

Have a nice weekend, friends.. enjoy your day with your family.. as long as you can…

tulisanmu harimaumu..

mulutmu harimaumu.. eh… tulisanmu harimaumu…

Beberapa kali pembahasan ini pernah diangkat didunia maya. Banyak sekali Blogger (seperti saya, mungkin) yang sekedar menuangkan opini, pendapat, kekesalan atau bahkan sekedar emosi, diblog (atau di sosial media) masing-masing yang sudah mereka anggap RUMAH sendiri. Yaps.. selayaknya rumah sendiri, orang merasa bisa melakukan apa saja.. berbuat apa saja dan mengatakan apa saja. selama itu ada di halaman dan di areal rumah mereka, mereka bisa berbuat apapun.

Tapi mereka lupa.. bahwa rumah di dunia maya ini adalah rumah dari kaca bening yang semua orang bisa memberikan penilaian masing-masing dan tidak ada seorangpun yang mampu mencegahnya. Walau tanpa meninggalkan komentar, Orang bisa memberikan penilaian bagus, tapi tidak jarang memberikan penilaian buruk.

Tinggal masing-masing pemilik blog (atau account sosmed) menjaga jari-jemari mereka untuk tidak menari kelewat batas. Sudah banyak kasus-kasus anggapan pencemaran nama baik, penghinaan atau bahkan pelecehan terjadi karena beberapa blogger yang tidak mampu menjaga tulisan mereka.

Mungkin sebagian orang menolak pendapat saya. Bagi mereka rumah dunia maya ini adalah rumah paling nyaman untuk di tinggali, untuk mereka mengungkap apapun yang tak sanggup mereka ungkap di dunia nyata. Mereka bisa memaki di blog mereka, Mungkin agar mereka bisa menampilkan wajah penuh senyum saat bertemu di dunia nyata.

Jadi siapa yang munafik? itu kembali pada individu masing-masing. mungkin tidak ada korelasinya dengan tulisan mereka di blog atau di sosial media.  ini saya share trik singkat melewati “ranjau” UU ITE.

6 trik singkat untuk melewati ‘ranjau’ UU ITE, dirangkum detikINET dari Ari Juliano Gema, selaku Konsultan HKI:

  1. Pengguna internet jangan sekadar mencari perhatian dengan membuat tulisan yang berlebihan.
  2. Saat menulis, pengguna internet harus fokus pada masalah, tidak melebar ke mana-mana.
  3. Tulisan yang dibuat pengguna internet harus didukung dengan fakta dan data.
  4. Dalam menulis, jangan sekadar mengkritisi, tapi juga berikan solusi atas permasalahan yang dikritisi.
  5. Pengguna internet harus mau terbuka pada saran dan masukan.
  6. Jangan ragu untuk minta maaf. Bila kita salah tulis sehingga menimbulkan opini publik yang berdampak merugikan seseorang, jangan ragu untuk mengakui kesalahan dan minta maaf.

(Sumber : detikINET)

Kalau melihat pengalaman yang sudah-sudah, kebanyakan penulis melakukan terperosok dalam ranjau ini lebih karena mereka menulis saat emosi. (haduh..padahal saya sering sekali menulis dalam keadaan emosi :p)

Hari ini setidaknya saya belajar.. Belajar untuk lebih menjaga jari-jari saya agar tidak nakal dan tidak menulis sembarang hal..

Semoga kita Semua selalu ingat dan menjaga diri untuk tidak terbawa emosi dan menuliskan apa yang seharusnya tidak kita tuliskan.